Destinasi Kuliner Terpilih di Kawasan Kotagede Yogyakarta

Destinasi Kuliner Terpilih di Kawasan Kotagede Yogyakarta -Kotagede bukan sekadar titik koordinat di peta Yogyakarta; ia adalah sebuah perjalanan waktu.

Sebagai bekas ibu kota Kerajaan Mataram Islam, setiap sudut gang sempit dan tembok perak di wilayah ini menyimpan memori yang terwujud dalam aroma masakan.

Baca Juga: Rekomendasi Kuliner Terlezat Sekitar Candi Cetho yang Wajib Dikunjungi

Bagi para pemburu rasa, Kotagede adalah “Laboratorium Kuliner” di mana resep-resep kuno tetap terjaga di tengah gempuran modernitas.

Jika Anda berencana mengunjungi Yogyakarta, melewatkan Kotagede sama saja dengan melewatkan jiwa dari kota ini. Mari kita telusuri lebih dalam destinasi makan paling otentik, mulai dari kudapan pasar hingga hidangan mewah di dalam rumah-rumah kuno yang artistik.

Jejak Sejarah dalam Setiap Gigitan

Keunikan kuliner Kotagede terletak pada akulturasi budayanya. Di sini, Anda akan menemukan pengaruh Jawa yang kuat, sentuhan kolonial, hingga nuansa pesisir yang dibawa oleh para pedagang zaman dahulu.

Struktur tata kota yang padat dengan arsitektur Jagalan dan Prenggan menciptakan suasana makan yang tidak akan Anda temukan di tempat lain. Makan di Kotagede bukan hanya soal kenyang, tapi soal menyerap atmosfer sejarah yang kental.

1. Ikon Tak Tergantikan: Kipo Bu Djito

Tidak mungkin membahas Kotagede tanpa menyebut Kipo. Makanan kecil berwarna hijau ini adalah warisan langsung dari era kerajaan. Nama “Kipo” sendiri konon berasal dari pertanyaan dalam bahasa Jawa, “Iki opo?” (Ini apa?).

Keunikan Rasa: Kipo terbuat dari tepung ketan yang diisi dengan parutan kelapa dan gula jawa (enten-enten). Teksturnya kenyal dengan aroma daun pandan dan daun suji yang kuat karena dimasak di atas cobek tanah liat.

Mengapa Harus ke Sini: Kipo Bu Djito di Jalan Mondorakan adalah penjaga gawang orisinalitas panganan ini. Ukurannya yang mungil membuatnya menjadi camilan yang sempurna sembari berjalan kaki menyusuri gang-gang tua.

2. Kemewahan Klasik di Omah Makan Legi

Jika Anda mencari pengalaman makan di dalam rumah kuno dengan gaya aristokrat Jawa,

Omah Makan Legi adalah jawabannya. Bangunan ini merupakan rumah tradisional yang direstorasi dengan sangat cantik, memberikan kesan seolah Anda sedang bertamu ke rumah bangsawan Yogyakarta.

Menu Andalan: Brongkos Daging Sapi dan Ayam Goreng Lengkuas. Brongkos di sini memiliki kuah hitam pekat dari kluwek yang sangat gurih, dipadukan dengan kacang tolo dan potongan daging yang empuk.

Suasana: Sangat cocok untuk makan malam romantis atau perjamuan keluarga yang tenang. Cahaya lampu temaram dan perabotan kayu jati menambah kedalaman rasa pada setiap hidangan.

3. Bakmi Jawa Tunggul Metu: Kelezatan di Bawah Langit Malam

Kuliner Yogyakarta identik dengan Bakmi Jawa, dan Kotagede memiliki jagoannya sendiri. Bakmi Jawa Tunggul Metu menawarkan cita rasa smoke yang kuat karena masih menggunakan anglo (tungku arang).

Teknik Memasak: Setiap porsi dimasak satu per satu. Penggunaan telur bebek memberikan tekstur kuah yang lebih kental (nyemek) dan gurih dibandingkan menggunakan telur ayam biasa.

Tips Kuliner: Pesanlah menu “Bakmi Nyemek” dengan tambahan uritan (bakal telur). Perpaduan mie kuning, bihun, kol, dan suwiran ayam kampung di sini akan membuat Anda mengerti mengapa orang rela mengantre berjam-jam demi sepiring bakmi.

4. Kehangatan Wedang Ronde di Sudut Pasar

Pasar Kotagede adalah jantung kehidupan di sini. Saat matahari terbenam, pelataran pasar berubah menjadi pusat kuliner malam. Salah satu yang paling dicari adalah Wedang Ronde.

Komposisi: Bola-bola ketan berisi kacang tanah, disiram kuah jahe panas yang pedas-manis, ditambah kolang-kaling dan juga potongan roti tawar.

Filosofi: Menikmati ronde di pinggir jalan sembari melihat lalu lalang motor dan juga aktivitas warga lokal memberikan perspektif yang membumi tentang kehidupan di Yogyakarta.

5. Cokelat Monggo: Sentuhan Modernitas Belgia-Jawa

Meski terdengar modern, Cokelat Monggo lahir dan juga besar di Kotagede. Pabrik pertamanya berada di sini, didirikan oleh seorang pria asal Belgia yang jatuh cinta pada budaya lokal.

Inspirasi Rasa: Mereka menggabungkan teknik pembuatan cokelat Eropa dengan bahan lokal seperti cabai, jahe, mangga, hingga durian.

Aktivitas: Selain membeli oleh-oleh, di gerai pusatnya Anda bisa melihat proses pembuatan cokelat dan juga mengunjungi museum kecil yang menceritakan sejarah cokelat di dunia dan juga perkembangannya di Indonesia.

Menjelajahi Keunikan “Yang Tersembunyi”

Kotagede adalah labirin. Beberapa tempat makan terbaik justru tidak berada di pinggir jalan raya, melainkan tersembunyi di balik tembok-tembok tinggi rumah Between Two Gates.

Sate Karang: Sate Sapi Khas Kotagede

Berbeda dengan sate pada umumnya yang menggunakan bumbu kacang atau kecap standar, Sate Karang (Sate Sapi) memiliki bumbu yang lebih meresap ke dalam daging hasil dari proses marinasi yang lama.

Pendamping: Biasanya disajikan dengan lontong sayur atau kuah gulai yang encer namun kaya rempah. Tekstur daging sapinya kenyal namun tidak alot, dengan aroma bakaran yang menggugah selera.

Warung Makan Bu Tedjo

Bagi Anda yang ingin mencicipi masakan rumah harian orang Yogyakarta, Warung Bu Tedjo adalah destinasi “hidden gem”.

Di sini tersedia berbagai sayur ndeso seperti Sayur Lodeh, Oseng Mercon, dan juga bermacam-macam baceman. Harganya sangat terjangkau, namun rasanya sangat autentik.

Tips Menjelajah Kuliner Kotagede

Agar pengalaman wisata kuliner Anda maksimal, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

Transportasi: Jalanan di dalam Kotagede cenderung sempit. Sangat disarankan untuk menggunakan sepeda motor atau bahkan berjalan kaki. Jika Anda membawa mobil, parkirlah di kantong parkir utama dan juga lanjutkan perjalanan dengan becak.

Waktu Kunjungan: Pasar Kotagede paling hidup di pagi hari (untuk jajanan pasar seperti Yangko dan juga Geplak) dan juga malam hari (untuk makanan berat).

Interaksi Sosial: Jangan ragu untuk menyapa warga lokal. Seringkali, rekomendasi tempat makan terbaik justru datang dari obrolan santai dengan para perajin perak di sana.

Mengapa Kotagede Berbeda dari Malioboro?

Jika Malioboro menawarkan hiruk pikuk pariwisata masif, Kotagede menawarkan keintiman.

Kuliner di Kotagede terasa lebih “jujur”. Resep yang digunakan seringkali adalah resep turun-temurun yang tidak diubah demi mengikuti tren pasar. Inilah yang membuat para pecinta kuliner selalu kembali ke sini—untuk menemukan rasa yang tetap sama meski waktu terus berjalan.

Sebut saja Yangko, kue kotak kenyal dengan taburan tepung terigu. Di Kotagede,

Anda bisa menemukan pembuat Yangko yang masih menggunakan tangan secara manual untuk mengaduk adonan, memastikan teksturnya tetap sempurna. Rasa kacang di dalamnya memberikan ledakan rasa gurih di tengah manisnya adonan tepung ketan.

Filosofi Makan di Kotagede: “Alon-Alon Waton Kelakon”

Masyarakat Kotagede memegang teguh prinsip hidup yang tenang. Hal ini berimbas pada pelayanan di tempat makan. Jangan harap pelayanan kilat seperti restoran cepat saji.

Di sini, makanan disiapkan dengan hati. Menunggu bakmi dimasak di atas anglo adalah bagian dari ritual kuliner itu sendiri.

Aroma asap arang, suara sutil yang beradu dengan wajan besi, dan juga obrolan sayup-sayup dalam bahasa Jawa halus adalah pembuka selera yang tak tergantikan.