Rekomendasi Kuliner Terlezat Sekitar Candi Cetho yang Wajib Dikunjungi
Rekomendasi Kuliner Terlezat Sekitar Candi Cetho yang Wajib Dikunjungi – Menapakkan kaki di Candi Cetho bukan sekadar perjalanan sejarah di atas awan, melainkan sebuah petualangan indra yang lengkap.
Terletak di ketinggian sekitar 1.496 meter di atas permukaan laut, Candi Cetho menawarkan panorama magis yang sering kali diselimuti kabut tipis. Namun, setelah lelah mendaki anak tangga batu yang eksotis, perut tentu akan menuntut haknya.
Baca Juga: Menjelajahi Surga Gastronomi di Kota Gudeg: Panduan Lengkap Wisata Rasa yang Tak Terlupakan
Beruntung bagi Anda, kawasan lereng Gunung Lawu di Karanganyar ini adalah “surga tersembunyi” bagi para pencinta kuliner yang mencari kehangatan di tengah hawa dingin yang menusuk tulang.
Kuliner di sekitar Candi Cetho bukan hanya soal mengenyangkan perut, melainkan tentang harmoni antara bahan pangan lokal dengan pemandangan alam yang memesona.
Berikut adalah panduan lengkap mengenai tempat makan enak, sajian khas, dan pengalaman kuliner tak terlupakan yang bisa Anda temukan di dekat mahakarya peninggalan Kerajaan Majapahit ini.
Pesona Kuliner Khas Pegunungan Karanganyar
Sebelum kita masuk ke daftar tempat spesifik, penting untuk memahami apa yang membuat kuliner di daerah ini begitu istimewa. Karanganyar, khususnya daerah Jenawi dan
Tawangmangu, dikenal dengan hasil buminya yang melimpah, mulai dari sayur-mayur segar hingga tanaman teh yang menghampar hijau. Keunikan ini melahirkan budaya makan yang didominasi oleh hidangan hangat, berkuah, dan penuh rempah.
Salah satu bintang utama di sini adalah Sate Kelinci. Bagi banyak wisatawan, menyantap sate kelinci di tengah udara dingin adalah ritual wajib.
Dagingnya yang lembut dan rendah lemak dipadukan dengan bumbu kacang yang kental menciptakan sensasi hangat yang merambat ke seluruh tubuh. Selain itu, ada pula Teh Kemuning yang dipetik langsung dari kebun sekitar, memberikan aroma melati yang menenangkan jiwa.
Daftar Destinasi Kuliner Terbaik di Sekitar Candi Cetho
1. Warung Makan Spesial Sate Kelinci dan Sate Ayam Pak Temon
Berjarak tidak jauh dari gerbang masuk kawasan Candi Cetho, warung ini menjadi jujugan utama para pendaki dan wisatawan keluarga. Keunggulan utama di sini adalah kesegaran dagingnya.
Sate kelinci yang disajikan memiliki tekstur yang mirip dengan daging ayam namun lebih halus. Bakaran arangnya memberikan aroma smoky yang autentik.
Selain sate, Anda harus mencicipi Gulai Kambing mereka yang kaya akan santan dan rempah.
Menikmati semangkuk gulai panas sambil melihat kabut yang perlahan turun menutupi jalanan aspal adalah kemewahan sederhana yang tidak akan Anda temukan di hiruk pikuk kota besar.
2. Resto dan Kedai Kopi di Kawasan Kebun Teh Kemuning
Dalam perjalanan menuju atau pulang dari Candi Cetho, Anda pasti akan melewati hamparan luas Kebun Teh Kemuning. Di sini, banyak terdapat resto bergaya modern-tradisional yang menawarkan view langsung ke lembah hijau.
BaliNDeso Resto: Tempat ini menawarkan konsep rumah kayu dengan menu masakan Jawa yang sangat lengkap. Menu andalannya adalah Nasi Liwet Solo dan
Sayur Lodeh yang disajikan dengan tempe mendoan hangat. Keunggulan tempat ini adalah areanya yang luas, cocok bagi Anda yang datang bersama rombongan besar atau keluarga.
Ndoro Dono: Jika Anda mencari tempat yang sedikit lebih santai dengan sentuhan interior yang estetik,
Ndoro Dono adalah jawabannya. Mereka menyajikan berbagai varian teh premium hasil bumi lokal yang bisa dinikmati dengan pisang goreng keju atau singkong goreng merekah.
3. Warung Mbok Yem (Legenda di Kaki Lawu)
Meski nama Mbok Yem lebih identik dengan puncak Hargo Dalem, namun semangat kuliner
“Warung di Atas Awan” menginspirasi banyak warung kecil di sekitar jalur pendakian Cetho. Di sekitar area parkir candi, terdapat warung-warung sederhana yang menyajikan Pecel Ndeso.
Apa yang unik? Pecel di sini menggunakan nasi merah atau nasi putih dengan siraman sambal kacang yang cenderung pedas-manis, serta dilengkapi
dengan sayuran liar pegunungan seperti kenikir dan pucuk labu. Rasanya sangat segar dan memberikan energi tambahan untuk mengeksplorasi setiap sudut candi.
Menjelajahi Kehangatan Minuman Tradisional
Berada di ketinggian ribuan meter membuat minuman hangat menjadi pendamping wajib. Di dekat Candi Cetho, Anda akan sering menemui penjual Wedang Jahe Gepuk. Jahe yang digunakan adalah jahe emprit yang pedasnya menggigit, biasanya ditambah dengan gula jawa atau gula batu.
Jangan lewatkan pula Wedang Uwuh. Meskipun minuman ini berasal dari Jogja, namun versi Karanganyar seringkali memiliki tambahan rempah kayu manis yang lebih kuat karena melimpahnya tanaman rempah di lereng Lawu.
Minuman ini tidak hanya nikmat, tetapi juga berfungsi sebagai antioksidan dan penghangat tubuh alami agar Anda tidak mudah terserang masuk angin selama berwisata.
Strategi Wisata Kuliner: Tips Menikmati Sajian Candi Cetho
Agar pengalaman kuliner Anda maksimal, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
Waktu Berkunjung Terbaik: Datanglah saat pagi hari (sekitar pukul 08.00 – 10.00) atau sore hari menjelang matahari terbenam. Pada jam-jam ini, suhu udara sangat pas untuk menikmati makanan hangat. Selain itu, cahaya matahari yang miring memberikan pemandangan yang sangat indah dari jendela tempat makan Anda.
Ketersediaan Tempat: Pada akhir pekan atau hari libur nasional, kawasan Candi Cetho sangat ramai. Jika Anda berencana makan di restoran populer seperti BaliNDeso, sangat disarankan untuk melakukan reservasi terlebih dahulu atau datang lebih awal sebelum jam makan siang dimulai.
Pakaian yang Sesuai: Pastikan Anda tetap memakai jaket atau sweater meskipun sedang makan. Angin di lereng Lawu bisa bertiup kencang secara tiba-tiba, dan suhu bisa turun drastis dalam hitungan menit.
Siapkan Tunai: Meskipun beberapa resto besar sudah menerima pembayaran digital, warung-warung kecil legendaris di dekat candi seringkali hanya menerima pembayaran tunai. Selalu siapkan uang pas untuk memudahkan transaksi.
Mengapa Kuliner Candi Cetho Begitu Memikat?
Daya tarik utama dari tempat makan di sekitar Candi Cetho bukan hanya pada rasa makanannya, melainkan pada atmosfernya. Makan di sini berarti
Anda mendapatkan paket lengkap: oksigen yang bersih, pemandangan kebun teh yang hijau royo-royo, arsitektur candi yang megah di kejauhan, serta keramahan warga lokal yang tulus.
Setiap suapan nasi hangat dan setiap tegukan teh melati seolah bercerita tentang kekayaan tanah Karanganyar. Ini adalah bentuk apresiasi terhadap alam dan tradisi.
Bagi banyak orang, perjalanan ke Candi Cetho bukan sekadar wisata sejarah, melainkan “pelarian” sejenak dari rutinitas untuk memanjakan lidah dan menenangkan pikiran.
Inovasi Kuliner Modern di Jalur Cetho
Seiring meningkatnya popularitas Candi Cetho sebagai destinasi Instagrammable, bermunculan pula kafe-kafe modern yang menawarkan menu fusion.
Anda mungkin akan menemukan Pizza Tungku yang dimasak menggunakan kayu bakar lokal, atau Pasta bumbu rendang yang disesuaikan dengan selera lidah lokal namun disajikan dengan standar internasional.
Kehadiran tempat-tempat baru ini tidak lantas menenggelamkan warung tradisional, melainkan melengkapi pilihan bagi wisatawan.
Para anak muda bisa nongkrong cantik dengan segelas latte sambil memandang awan, sementara para orang tua menikmati nostalgia dengan sepiring jadah goreng dan teh poci.